Pejabat Pemerintah Memanfaatkan Hipermaskulinitas dalam Latihan di Depan Umum, Para Ahli Memperingatkan

0
23

Pejabat pemerintah, termasuk anggota pemerintahan saat ini, semakin sering menggunakan kekuatan fisik yang dipamerkan di depan umum – sering kali bertelanjang dada dan terlalu berotot – sebagai pesan politik yang diperhitungkan. Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr., bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth, secara mencolok menampilkan latihan di saluran resmi pemerintah, sehingga memicu kekhawatiran dari sosiolog dan pakar gender.

Bangkitnya Kekuatan Performatif

Video terbaru menampilkan Kennedy melakukan push-up dengan Kid Rock dan bersepeda bertelanjang dada dengan celana jins, disertai dengan gambaran agresif seperti hiu dan pesawat militer. Tampilan ini lebih dari sekedar kebugaran sederhana; mereka secara aktif memperkuat standar maskulinitas yang sempit dan seringkali tidak dapat dicapai. Tren ini juga meluas ke Hegseth, yang memfilmkan dirinya sedang mengangkat beban berat sambil berkomentar tentang mempertahankan “dominasi” – bahkan ketika AS menghadapi ketegangan geopolitik.

Masalah intinya bukanlah kebugaran itu sendiri, namun presentasi kecakapan fisik yang disengaja dan dilebih-lebihkan. Para ahli mencatat bahwa hal ini sejalan dengan tren ideologi yang lebih luas, termasuk nasionalisme kulit putih dan peperangan budaya konservatif. Ini adalah penggunaan citra tubuh yang disengaja untuk menandakan kekuatan, agresi, dan penolakan terhadap anggapan “kelemahan” masyarakat.

Konteks Sejarah dan Implikasi Modern

Ini bukanlah taktik baru. Contoh sejarah, mulai dari citra kasar Theodore Roosevelt hingga penampilan agresif maskulinitas Ku Klux Klan, menunjukkan bagaimana dominasi fisik telah digunakan untuk mempromosikan agenda ideologis. Saat ini, tren tersebut dipicu oleh polarisasi politik dan ketakutan akan “feminisasi” masyarakat.

Sosiolog Tristan Bridges menyoroti bahwa meskipun unjuk kekuatan yang berlebihan sering kali bersifat satir, para pejabat ini menampilkannya dengan serius, memanfaatkan energi ironis untuk pesan-pesan konservatif. Hal ini kontras dengan penampilan yang ceria dan penuh kesadaran diri dari tokoh-tokoh seperti Arnold Schwarzenegger.

Melampaui Politik: Radikalisasi Kebugaran

Penggunaan kebugaran tidak hanya sekedar isyarat politik. Secara historis, pelatihan fisik telah digunakan untuk merekrut dan mempersiapkan individu untuk gerakan revolusioner. Saat ini, kelompok ekstremis memanfaatkan program kebugaran untuk mengindoktrinasi pria muda, sementara komunitas online seperti “swoletariat” menggabungkan politik progresif dengan budaya binaraga.

Peluang utama yang dapat diambil adalah bahwa di era perpecahan politik yang ekstrem, bahkan aktivitas netral seperti berolahraga dapat diberi makna ideologis. Pesan yang disampaikan jelas: kekuatan fisik setara dengan superioritas, kesiapan bertempur, dan kesetiaan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Pada akhirnya, meski tidak semua tubuh berotot bersifat politis, iklim saat ini memastikan bahwa hampir semua kebiasaan dapat ditafsirkan sebagai bukti kesetiaan seseorang. Hipermaskulinitas performatif yang ditunjukkan oleh pejabat pemerintah tidak hanya berfungsi sebagai promosi kebugaran, namun juga sebagai penegasan dominasi di dunia yang semakin terpolarisasi.