Meningkatnya Angka Kanker Kolorektal pada Dewasa Muda: Yang Perlu Anda Ketahui

0
17

Kanker kolorektal – kanker yang mempengaruhi usus besar atau rektum – semakin banyak didiagnosis pada orang di bawah 50 tahun, sebuah tren yang mengkhawatirkan para dokter dan peneliti. Meskipun jumlah keseluruhannya masih relatif kecil, namun laju peningkatannya cukup signifikan, sehingga menimbulkan pertanyaan mendesak mengenai mengapa hal ini terjadi dan apa yang dapat dilakukan. Kematian aktor James Van Der Beek baru-baru ini, yang berjuang melawan penyakit tersebut, menggarisbawahi betapa seriusnya masalah kesehatan yang semakin meningkat ini.

Peningkatan Diagnosis yang Mengkhawatirkan

Data dari American Cancer Society mengungkapkan diagnosis kanker kolorektal pada orang dewasa di bawah usia 55 tahun meningkat hampir dua kali lipat antara tahun 1995 dan 2019, meningkat dari 11% menjadi 20%. Yang lebih memprihatinkan adalah peralihan ke arah diagnosis tahap lanjut, yang kini terjadi pada 60% kasus, dibandingkan dengan 52% pada pertengahan tahun 2000an. Ini berarti penyakit ini berkembang lebih jauh sebelum terdeteksi, sehingga mengurangi efektivitas pengobatan.

Para dokter telah mengamati tren ini selama bertahun-tahun, dengan peningkatan kasus sebesar 1-2% setiap tahunnya sejak tahun 1990an. Peningkatan paling dramatis terjadi pada kelompok demografi termuda: mereka yang berusia 20-29 tahun, dan hal ini memerlukan perhatian segera.

Mengapa Ini Terjadi?

Penyebab pastinya masih dalam penyelidikan, namun diduga kuat faktor lingkungan. Para peneliti tidak melihat adanya pergeseran genetik yang bisa menjelaskan peningkatan ini, yang berarti gaya hidup dan kebiasaan makan kemungkinan besar memainkan peran penting.

Faktor-faktor utama yang berkontribusi meliputi:

  • Diet Barat: Konsumsi tinggi daging olahan, gula rafinasi, dan makanan rendah serat.
  • Masalah Obesitas dan Metabolik: Kelebihan berat badan dan kondisi seperti diabetes.
  • Alkohol dan Merokok: Faktor risiko kanker yang sudah ada.

Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan peningkatan risiko, meskipun tidak ada satu elemen pun yang bertanggung jawab sepenuhnya. Para ahli menekankan bahwa moderasi adalah kuncinya – tidak ada gunanya menghilangkan semua kesenangan dalam hidup – namun memprioritaskan nutrisi dan olahraga tetap penting.

Pedoman dan Tantangan Penyaringan

Pedoman skrining saat ini merekomendasikan dimulainya kolonoskopi rutin pada usia 45 tahun, sebuah perubahan dari usia 50 tahun sebelumnya karena meningkatnya insiden kolonoskopi pada orang dewasa muda. Tujuannya adalah deteksi dini kanker yang dapat diobati dan pengangkatan polip prakanker untuk mencegah perkembangan penyakit.

Namun, hal ini menyisakan kesenjangan bagi mereka yang berusia di bawah 45 tahun, kelompok yang mengalami peningkatan paling signifikan. Perlindungan asuransi sering kali tidak mencakup individu muda yang tidak memiliki profil risiko tinggi.

Mereka yang memiliki riwayat keluarga menderita kanker kolorektal atau penyakit radang usus (Crohn atau kolitis ulserativa) memenuhi syarat untuk pemeriksaan dini. Jika Anda memiliki kekhawatiran, berapapun usianya, anjurkan untuk melakukan tes dengan dokter Anda – meskipun cakupannya mungkin ditolak.

Selain Kolonoskopi: Pilihan Pemeriksaan Alternatif

Banyak orang takut terhadap kolonoskopi, namun para ahli menekankan bahwa kolonoskopi aman dan sangat efektif. Persiapan (pembersihan usus) seringkali merupakan bagian yang paling tidak nyaman. Namun, ada pilihan lain:

  • Tes Imunokimia Tinja (FIT): Pengujian sampel tinja tahunan.
  • Kolonoskopi Virtual (CT Scan): Diperlukan setiap lima tahun.
  • Kolonoskopi: Standar emas; memungkinkan pengangkatan polip dan biopsi, diulang setiap 10 tahun.

Faktor yang paling penting adalah melakukan screening, apa pun metodenya.

Mengenali Tanda-tandanya

Gejala awal kanker kolorektal antara lain:

  • Pendarahan Rektal: Darah pada tinja atau tisu toilet. (Meski sering kali disebabkan oleh wasir, jangan disepelekan.)
  • Sakit Perut: Ketidaknyamanan yang terus-menerus di perut.
  • Diare: Sering buang air besar encer.
  • Anemia Defisiensi Besi: Jumlah darah rendah karena kehilangan darah yang tidak terlihat.
  • Penurunan Berat Badan Tanpa Alasan: Penurunan massa tubuh secara tiba-tiba dan tidak disengaja.
  • Perubahan Kebiasaan Buang Air Besar: Sembelit yang terus-menerus atau buang air besar yang tidak tuntas.

Jika Anda mengalami salah satu hal tersebut, terutama jika Anda berusia di bawah 45 tahun, segera konsultasikan ke dokter.

Intinya

Kanker kolorektal menjadi semakin umum terjadi di kalangan dewasa muda karena faktor gaya hidup dan lingkungan. Deteksi dini melalui skrining dan kesadaran akan gejala sangatlah penting. Memprioritaskan gaya hidup sehat, menganjurkan pengujian yang tepat, dan mengetahui riwayat keluarga Anda dapat membantu mengurangi ancaman yang semakin besar ini.

Mengabaikan tren ini bukanlah suatu pilihan; keterlibatan proaktif dengan kesehatan Anda adalah pertahanan terbaik.