Pertambahan usia membawa masalah kesehatan yang tidak dapat dihindari, namun ketakutan akan demensia – hilangnya fungsi kognitif yang tidak dapat diperbaiki – menjadi hal yang besar bagi banyak orang. Meskipun kecenderungan genetik berperan, penelitian baru menunjukkan bahwa pilihan gaya hidup tertentu dapat meningkatkan risiko secara signifikan. Para ahli menekankan bahwa meskipun bukti pasti memerlukan uji klinis ekstensif, menerapkan kebiasaan sehat akan memberikan manfaat yang lebih luas. Inilah yang disarankan oleh ilmu pengetahuan:
Koneksi Otak-Tubuh
Hubungan antara kesehatan fisik dan mental sangatlah penting. Christina Prather dari Universitas George Washington menyatakan, “Apa yang baik untuk jantung juga baik untuk otak.” Mengabaikan hubungan ini dapat mempercepat penurunan kognitif.
- Pola Makan Buruk: Pola makan yang kurang nutrisi penting, terutama yang ditemukan pada pola makan Mediterania atau pola makan MIND (kaya akan buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, dan lemak sehat), menghilangkan unsur-unsur penting dalam otak.
- Kondisi Kesehatan yang Tidak Terkelola: Kondisi seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi berdampak langsung pada kesehatan otak dengan merusak pembuluh darah dan mengurangi aliran oksigen. Manajemen yang agresif adalah kuncinya.
- Kurang Tidur: Kurang tidur atau terganggu menghambat proses pembersihan alami otak, sehingga memungkinkan protein beracun (seperti beta-amiloid, yang terkait dengan Alzheimer) menumpuk. Gangguan tidur, seperti apnea, harus diatasi.
Faktor Sosial, Perilaku, dan Fisik
Selain pola makan dan kesehatan fisik, pilihan gaya hidup yang terkait dengan keterlibatan sosial dan penghindaran risiko juga berperan.
- Isolasi Sosial: Kesepian dan kurangnya koneksi sosial berhubungan dengan penurunan kognitif dan angka kematian yang sebanding dengan perokok berat. Mempertahankan hubungan dan keterlibatan sosial yang aktif melindungi dari hal ini.
- Konsumsi Alkohol Berlebihan: Penggunaan alkohol dalam jumlah besar merusak hati, meningkatkan risiko kanker, dan mengganggu tidur—semuanya merupakan faktor yang berkontribusi terhadap penurunan kognitif. Disarankan dalam jumlah sedang: tidak lebih dari satu gelas per hari untuk orang dewasa yang lebih tua.
- Ketidakaktifan Fisik: Kurangnya olahraga teratur membahayakan kesehatan jantung, yang pada gilirannya berdampak pada fungsi otak. Orang dewasa yang lebih tua harus melakukan latihan aerobik setidaknya 30 menit lima hari seminggu, meskipun tingkat kepatuhannya rendah.
Menghindari Trauma yang Dapat Dicegah
Terakhir, melindungi otak dari cedera fisik adalah hal yang terpenting.
- Cedera Kepala: Cedera otak traumatis, bahkan yang tampak ringan, selalu dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia. Mengenakan helm saat beraktivitas seperti bersepeda merupakan tindakan pencegahan sederhana.
- Depresi yang Tidak Diobati: Baik depresi berat maupun ringan mengganggu kesehatan kognitif karena mengganggu sosialisasi, olahraga, perawatan diri, dan pola makan. Mengatasi gejala depresi dapat meningkatkan penuaan kognitif.
Intinya: Meskipun angka demensia meningkat karena bertambahnya umur panjang, risikonya tidak sepenuhnya dapat ditentukan sebelumnya. Perubahan gaya hidup dapat secara signifikan mengurangi kemungkinan terkena penyakit ini. Namun, menyalahkan individu atas suatu diagnosis mengabaikan faktor genetik dan risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan pengendalian terhadap faktor-faktor yang dapat dicegah dan pada saat yang sama mengakui bahwa beberapa kasus masih tidak dapat dihindari.
