Kecerdasan buatan dengan cepat menyebar ke mana-mana, dan banyak keluarga yang bergulat dengan implikasinya. Laporan terbaru dari Common Sense Media mengungkapkan kesenjangan yang signifikan antara orang tua dan anak remaja mereka (usia 12-17 tahun) terkait persepsi dampak AI terhadap masyarakat, pendidikan, dan rutinitas sehari-hari. Meskipun kedua generasi menyadari potensi transformatif AI, para orang tua lebih berhati-hati, sementara remaja mendekati teknologi ini dengan lebih optimis. Perbedaan ini bukan hanya sekedar perbedaan sudut pandang – tapi juga mencerminkan kesenjangan mendasar dalam memahami bagaimana AI sudah terintegrasi ke dalam kehidupan generasi muda.
AI sebagai New Normal: Harapan vs. Kenyataan
Sebagian besar keluarga percaya bahwa AI akan mengubah masyarakat seperti halnya internet atau listrik, dan hampir dua pertiga orang tua juga setuju. Sebagian besar remaja setuju, namun menunjukkan keyakinan yang lebih kuat terhadap dampak positif AI. Lebih dari separuh remaja memperkirakan AI akan memberikan manfaat bagi masyarakat, baik saat ini maupun dalam jangka panjang, sedangkan pendapat orang tua terbagi rata antara pandangan penuh harapan dan kekhawatiran.
Kesenjangan generasi ini tidak terjadi secara acak; itu berasal dari cara AI digunakan. Orang tua meremehkan sejauh mana remaja sudah menggunakan alat AI. Meskipun separuh orang tua melaporkan penggunaan AI secara rutin, dua pertiga remaja mengaku menggunakannya setidaknya sesekali.
Kesalahpahaman ini meluas hingga ke bagaimana remaja memanfaatkan AI. Orang tua mengasumsikan aplikasi kreatif atau sosial seperti pembuatan gambar, namun remaja terutama menggunakan AI untuk tugas-tugas praktis: pengambilan informasi (59%) dan bantuan akademik (55%). Survei Pew Research Center serupa dengan tren ini, dan menemukan bahwa sekitar dua pertiga remaja sudah mengandalkan chatbot AI untuk pekerjaan rumah, bertukar pikiran, dan penelitian. Kecepatan dimana AI menjadi penting bagi pendidikan remaja melampaui kesadaran orang tua dan adaptasi sekolah.
Pendidikan: Medan Pertempuran Terbesar
Pendidikan merupakan poin perdebatan yang paling signifikan. Meskipun lebih dari separuh remaja melihat AI berdampak positif terhadap pembelajaran mereka, hanya 41% orang tua yang setuju. Ketidaksepakatan ini juga meluas ke peran AI dalam tugas sekolah: separuh orang tua memandang penggunaannya dalam tugas sebagai hal yang tidak etis, sementara separuh remaja menganggapnya sebagai pendekatan yang inovatif.
Meskipun ada kesenjangan, kedua kelompok menyadari perlunya pendidikan AI yang bertanggung jawab. Sekitar 68% remaja dan 52% orang tua percaya bahwa sekolah harus memandu penggunaan AI, dan menekankan pentingnya literasi digital di era otomatisasi.
Kepedulian Bersama: Kreativitas dan Keamanan
Salah satu bidang yang selaras antara orang tua dan remaja adalah potensi dampak terhadap kreativitas. Tujuh puluh persen orang tua dan 62% remaja khawatir bahwa ketergantungan yang berlebihan pada AI dapat menghambat perkembangan kreatif. Kekhawatiran ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas mengenai alihdaya upaya kognitif ke teknologi, yang berpotensi melemahkan keterampilan yang diasah melalui pemikiran mandiri dan pemecahan masalah.
Namun, keamanan dan privasi tetap menjadi perhatian utama orang tua. Mayoritas khawatir tentang pengumpulan data, penyalahgunaan informasi pribadi, dan peniruan identitas secara online. Masalah ini diperburuk oleh fakta bahwa 58% orang tua mengaku hanya mengetahui sedikit tentang fitur keselamatan AI yang dirancang untuk remaja, sehingga menghambat kemampuan mereka untuk menetapkan batasan yang tepat.
Seruan untuk Regulasi
Terlepas dari perbedaan mereka, baik orang tua maupun remaja menganjurkan pengawasan yang lebih ketat. Tiga perempat dari kedua kelompok mendukung badan pemerintah yang bertanggung jawab atas keamanan AI, serta kebijakan yang mewajibkan pengujian keamanan pra-rilis dan pelabelan yang jelas pada konten yang dihasilkan AI. Hampir tujuh dari sepuluh orang tua mendukung persyaratan hukum bagi perusahaan untuk memprioritaskan keselamatan pengguna di bawah umur dibandingkan pedoman sukarela.
Keluarga tidak langsung menolak AI, namun menuntut aturan yang jelas karena AI sudah tertanam dalam kehidupan sehari-hari. Masa depan AI bergantung pada bagaimana keluarga, sekolah, dan pembuat kebijakan berkolaborasi untuk memaksimalkan manfaatnya sekaligus memitigasi risiko bagi generasi berikutnya.
Kesimpulan utamanya bukanlah apakah AI itu baik atau buruk, namun apakah masyarakat dapat beradaptasi dengan cukup cepat untuk memastikan AI memberikan manfaat terbaik bagi anak-anak.
